Aktifitas Seismik Pulau Seram

By rickyjoe 24 Jan 2020, 14:11:52 WIB

Bentang alam dan keanekaragaman hayati wilayah Indonesia bagian timur telah lama menarik minat para ilmuwan dunia untuk datang dan meneliti. Tidak terkecuali hamparan laut yang menyimpan harta karun informasi di bidang oseanografi.

Di Laut Banda, terdapat amblasan patahan raksasa seluas 60 ribu kilometer persegi yang disebut Detasemen Banda. Sebelumnya, daerah ini juga dikenal sebagai Palung Weber.

Laut Banda adalah salah satunya. Terletak di Kepulauan Maluku, tepatnya Maluku Tengah, laut Banda memiliki luas sekitar 470.000 kilometer persegi. Dari Samudera Pasifik, ia terpisahkan oleh pulau dan lautan seperti Pulau Ambon, Maluku dan Buru serta Laut Seram dan Halmahera. Di bagian selatan, terdapat Pulau Wetar, Babar, Alor, Timor dan Tanimbar. Di bagian timur terdapat Pulau Aru dan bagian barat ada Pulau Wakatobi.

Ekspedisi Snellius (1929-1930) (PDF) pimpinan P. M. van Riel yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda ketika itu berhasil memetakan kondisi dasar laut Banda. Salah satu temuan yang kemudian terkenal adalah palung laut sedalam 7.440 meter dengan luas 50.000 kilometer persegi. Tim ekspedisi Snellius menamainya Palung Weber. Ditemukan pula Lubuk Banda Utara (kedalaman 5.800 meter), Lubuk Banda Selatan (5.400 meter), dan beberapa lainnya.
Pada 1951, Ekspedisi Galathea (PDF) yang berisikan para peneliti asal Denmark melakukan penelitian di Laut Banda. Dari hasil penelitian dan pengambilan sampel dari kedalaman 7.280 dan 6.580 meter di Palung Banda, ditemukan berbagai koleksi teripang, cacing, krustasea, dan hewan-hewan lainnya yang hidup dalam gelapnya palung laut.
Palung laut, atau yang biasanya disebut paritnya samudra, biasanya terbentuk selama subduksi dua lempeng tektonik. Palung Weber termasuk unik dan tak lazim. Pada umumnya, palung cenderung membentuk sebuah parit dengan ceruk ke dalam menyerupai huruf v. Namun, Palung Weber ini juga berada di area lembah cekungan raksasa dengan bentuk seperti busur mengikuti pola muka formasi Busur Banda. Maka, daerah ini sekaligus juga disebut sebagai Lubuk Weber.

Para ahli geologi dalam tim gabungan tersebut menganalisis peta batimetri (topografi bawah laut) wilayah Laut Banda di Samudra Pasifik. Mereka menemukan bahwa batu-batuan dasar laut itu tampak dipotong oleh ratusan bekas sayatan paralel lurus.

Olah simulasi dasar laut menunjukkan bahwa potongan besar pada titik tertentu tampak tercabik-cabik oleh sesar di lempeng samudera sehingga membentuk amblasan yang mendalam di dasar laut. Para peneliti kemudian menjuluki area tersebut "Detasemen Banda".

Bagi Pownall, penemuan patahan Detasemen Banda membantu proses mitigasi atas bahaya tsunami dan gempa bumi seandainya patahan atau sesar tersebut bergerak secara masif.

Dalam catatan sejarah, gempa bumi besar dan tsunami yang bersumber dari sekitar perairan Banda memang pernah terjadi.

Pada 1 Agustus 1629, misalnya, sebuah gempa besar megathrust dengan magnitudo 9,2 menyebabkan tsunami setinggi 15 meter menerjang Kepulauan Banda. Gempa besar 1629 juga dirasakan sampai Ambon meski daerah tersebut tak diterjang tsunami. Gempa susulan terus terjadi hingga sembilan tahun setelahnya. Dugaan para peneliti, gempa bersumber dari Palung Seram. Gempa megathrust sendiri adalah gempa yang berasal dari zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.


Lokasi transek SEATAR di Asia Tenggara. Bawah: Survei laut
dengan metode seismik untuk mengetahui struktur geologi di bawah permukaan
dasar laut.
proyek
SEATAR, antara lain RV Atlantis II dari Amerika Serikat (atas) dan RV Jean
Charcot dari Perancis (bawah).